Gemati - Suara Rakjat
Perjalanan

Di Desa Kita Sibuk, Di Kota Kita Disibukkan: Dari Cilacap Ke Solo

Azka Syifaul Maula | 15 Jul 2026


Cover

Ada satu pertanyaan yang selalu terdengar setiap kali aku pulang ke kampung: "Kerja di kota pasti sibuk, ya?" Aku mengangguk, lalu tersenyum seperlunya. Bukan karena pertanyaan itu keliru. Melainkan, karena aku baru menyadari bahwa kata “sibuk” ternyata memiliki makna yang berbeda, bergantung pada tempat seseorang menjalani hidup.

Di desa, orang-orang juga sibuk. Bahkan, mungkin lebih sibuk daripada yang dibayangkan banyak orang. Pagi belum benar-benar datang ketika suara sapu lidi mulai terdengar dari halaman rumah.

Sebagian orang berjalan ke sawah sambil memanggul cangkul, sebagian lagi mengurus ternak, menyiram kebun, atau membantu tetangga yang sedang menggelar hajatan. Anak-anak berangkat ke sekolah, sementara para ibu menyiapkan sarapan sebelum matahari benar-benar meninggi. Namun, tak seorang pun merasa perlu mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk.

Kesibukan di desa hadir sebagaimana embun yang menempel di daun setiap pagi. Ia tidak dibuat-buat, tidak dipamerkan, dan tidak dijadikan ukuran keberhasilan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, maka dikerjakan. Setelah itu, hidup kembali berjalan sebagaimana mestinya.

Menjelang sore, orang-orang duduk di teras rumah. Secangkir kopi, obrolan ringan, dan angin yang berembus dari hamparan sawah menjadi penutup hari yang sederhana.

Tak ada rasa bersalah karena memilih beristirahat. Tak ada kecemasan karena sehari itu tidak berhasil mencentang semua daftar pekerjaan.

Di desa, kesibukan lahir dari kehidupan. Lalu aku merantau.

Datang, Harapan

Seperti banyak anak muda lainnya, aku datang ke kota dengan keyakinan bahwa masa depan berada di sana. Kota memang memberiku banyak hal: pekerjaan, pengalaman, dan kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya hanya kukenal lewat cerita. Namun, kota juga memperkenalkanku pada bentuk kesibukan yang berbeda.

Di sini, bukan hanya pekerjaan yang memenuhi hari. Ada perjalanan panjang menuju kantor, rapat yang silih berganti, notifikasi yang tak pernah benar-benar berhenti, target baru sebelum target lama sempat dirayakan. hingga pesan pekerjaan yang datang ketika malam seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat.

Lama-kelamaan aku merasa, di kota kita tidak hanya bekerja. Kita juga disibukkan. Disibukkan oleh tuntutan untuk selalu cepat. Disibukkan oleh rasa takut tertinggal. Disibukkan oleh keyakinan bahwa diam berarti kalah bersaing. Seolah-olah hidup yang baik adalah hidup yang jadwalnya selalu penuh.

Ironisnya, banyak kesibukan itu tidak lahir dari kebutuhan, melainkan dari budaya yang terus mendorong manusia agar tidak pernah benar-benar berhenti. Kita merasa harus segera membalas pesan, harus terus meningkatkan kemampuan, harus membangun citra sebagai pribadi yang produktif, bahkan harus tetap terlihat sibuk agar dianggap bernilai.

Kesibukan akhirnya bukan lagi bagian dari hidup. Ia berubah menjadi identitas.

Aku pernah duduk di sebuah kedai kopi yang dipenuhi orang-orang dengan laptop terbuka. Hampir semuanya mengenakan earphone, sesekali menatap layar ponsel, lalu kembali mengetik. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang benar-benar menikmati secangkir kopi yang sudah terlanjur dingin.

Saat itu aku bertanya pada diriku sendiri, apakah mereka sedang bekerja, atau hanya sedang berusaha mengejar sesuatu yang tidak pernah selesai? Barangkali pertanyaan itu juga berlaku untuk diriku sendiri.

Sebab sejak tinggal di kota, aku mulai sulit mengingat kapan terakhir kali menikmati sore tanpa merasa dikejar pekerjaan. Bahkan ketika tubuh sedang beristirahat, pikiran masih sibuk menyusun pekerjaan esok hari. Ponsel yang seharusnya memudahkan komunikasi justru membuat pekerjaan menemukan jalan masuk ke ruang-ruang yang dulu bernama waktu pribadi.

Pulang

Suatu hari aku pulang ke desa. Ayah mengajakku membersihkan saluran air di belakang rumah. Pekerjaan itu selesai sebelum tengah hari. Setelah makan siang, kami duduk di bawah pohon mangga. Tak ada telepon yang harus segera diangkat. Tak ada rapat mendadak. Tak ada notifikasi yang memecah percakapan.

Yang terdengar hanya suara angin, ayam yang sesekali berkokok, dan tawa anak-anak yang bermain di jalan kampung.

Di tengah kesunyian itu, aku memahami sesuatu. Ayah juga sibuk. Tetangga-tetanggaku juga sibuk. Tetapi mereka tidak disibukkan.

Kesibukan mereka tumbuh dari kebutuhan hidup yang nyata. Ketika pekerjaan selesai, mereka tahu kapan harus berhenti. Mereka masih memiliki ruang untuk bercengkerama, menghadiri pengajian, membantu tetangga, atau sekadar menikmati senja tanpa merasa sedang membuang waktu.

Sebaliknya, di kota, kesibukan sering kali seperti mesin yang terus berputar tanpa tombol jeda. Ia menciptakan pekerjaan baru bahkan ketika pekerjaan lama belum selesai. Ia membuat manusia percaya bahwa nilai dirinya bergantung pada seberapa padat jadwal yang dimiliki.

Padahal, manusia tidak diciptakan hanya untuk terus bergerak. Ia juga membutuhkan jeda.

Waktu

Merantau membuatku sadar bahwa desa dan kota bukan sekadar dipisahkan oleh bentang geografis. Keduanya dipisahkan oleh cara memaknai waktu.

Di desa, waktu mengikuti ritme kehidupan. Di kota, kehidupan sering dipaksa mengikuti ritme waktu.

Aku tidak sedang mengatakan bahwa desa lebih baik daripada kota. Kota telah membuka banyak pintu bagi siapa pun yang ingin mengubah nasib. Begitu pula desa, yang tidak selalu menawarkan kemudahan bagi setiap orang.

Namun, di tengah perlombaan yang tak pernah selesai itu, ada satu hal yang rasanya perlu terus kita jaga: jangan sampai kesibukan mengambil alih makna hidup itu sendiri.

Sebab bekerja keras adalah kebutuhan. Tetapi terus-menerus disibukkan bukanlah cita-cita. Barangkali itulah pelajaran paling berharga yang kudapat sebagai seorang perantau.

Bahwa tujuan hidup bukanlah memiliki jadwal yang paling penuh, melainkan menemukan keseimbangan antara bekerja, beristirahat, dan tetap memiliki waktu untuk menjadi manusia.

Karena pada akhirnya, yang membedakan desa dan kota bukanlah sawah atau gedung-gedung pencakar langit. Melainkan cara keduanya memperlakukan manusia.

Di desa, kita sibuk karena hidup memang memanggil kita untuk bekerja. Di kota, terlalu sering kita disibukkan hingga lupa untuk benar-benar hidup.


#Solo #Cilacap #Sibuk #Desa #Kota

PENULIS :
Foto
Azka Syifaul Maula
Berasal dari Cilacap, Jawa Tengah. Alumnus UIN Surakarta pada Fakultas Syariah, Program Studi Hukum Keluarga Islam. Memiliki ketertarikan pada kajian hukum, filsafat, dan isu-isu sosial kontemporer. IG: algandrungi (Ceng Syifa Al-Gandrungi)