Gemati - Suara Rakjat
Sastra Gandrung

Hujan dan Kota

Femas Anggit Wahyu Nugroho | 27 Jul 2026


Cover

Senja kian tersamar oleh awan yang perlahan menebal. Langit mengelam merayapkan gelap di antara gedung-gedung, ruko-ruko, rumah-rumah, dan gang-gang, dan di sepanjang jalan menyelinap padaku sebuah perasaan rawan ketika butiran-butiran air yang berjatuhan semakin banyak dan semakin menyamarkan pandangan sehingga memaksaku untuk membelokkan motorku, dan baru kusadari bahwa kini aku berada di bawah atap sebuah kafe yang sudah tidak asing lagi bagiku.

Terasa angin merangsek masuk dari pintu membawa sendu karena di dalam kafe ini mengalun sebuah lagu yang mengingatkanku akan sesuatu yang sudah bukan lagi milikku.

Dingin kota mendekapmu// Ada aku di wajahmu// Kembali seperti dahulu// Kota menanti kekasih baru// Kota menanti kekasih baru. (Hujan dan Kota, Kacaubung)

Seketika ingatanku melayang kepadamu. Pada senyum manismu dan harum rambutmu yang sehitam malam yang masih kuingat benar tanpa samar hingga sekarang, dan sepasang mata terindah yang lebih indah dari apa pun yang paling indah, yang selalu berbinar-binar dan selalu menampakkan keceriaan seolah tiada duka dan tiada luka yang mampu menghapus keindahannya sehingga betapa mudah membuatku untuk jatuh cinta.

Aku menyesap cappucino untuk menghangatkan tubuh.

Bau basah jalanan merangsek masuk ke dalam kafe bersama angin yang mengembus dingin. Butiran-butiran air dari lubang langit semakin banyak dan semakin membasahi seisi kota, menjelma aliran pada selokan dan sungai yang terus mengalir dan terus mengalir entah ke mana bagai tanpa arah bagai tanpa tujuan, seolah menghapus jejak-jejak kenangan yang telah lama tertinggal.

Meskipun apa yang dinamakan kenangan sebenarnya tiada dapat benar-benar dihapuskan sehingga menyisakan timbul-tenggelam ingatan-ingatan dan kerinduan-kerinduan pada saat malam-malam yang kelam dan muram dan pada saat senja-senja yang kelabu seperti yang kurasakan saat ini, di dalam kafe ini yang mengalunkan lagu yang mengingatkanku pada senja hari itu, tiga tahun yang lalu di kafe ini pula ketika kamu menatapku bukan dengan tatapan mata yang seindah biasanya dan senyum semanis biasanya, melainkan dengan tatapan mata yang sayu dan senyum yang sendu seolah luka dan duka telah menjalar di sekujur tubuhmu.

“Kita tidak bisa lagi melanjutkan semua ini,” katamu ketika itu. “Kamu juga tahu, bagaimana pun kita tidak akan pernah bisa hidup bersama.”

Lalu hidungmu mulai kembang kempis yang memaksaku untuk mengiba dan buliran-buliran kecil yang bening mulai menghiasi sudut matamu dan pipimu yang kemudian membasahi jaketku ketika kamu menyandarkan kepala ke pundakku.

Dan ketika itu aku sungguh ingin waktu berhenti agar kita tetap bersama dan agar perpisahan tidak pernah benar-benar menjadi nyata. Tapi waktu tak pernah peduli dengan ingatan, sejarah, maupun kenangan manusia sehingga waktu terus mengalir sedemikian rupa membawa manusia terus bergerak di dalamnya.

Pada saat itu hanya tersisa sunyi yang melilit-lilit lidahku dan membuat tanganku hanya mampu mengusap-usap rambutmu yang berkibar-kibar ditiup angin sehingga membuat rambutmu bagai jarum-jarum yang menjahit kenyataan demi kenyataan tentang perpisahan dan kesedihan dan tentang malam-malam kerinduan yang tanpa rayuan dan tanpa ucapan selamat tidur.

Alunan lagu di dalam kafe selesai dan digantikan dengan lagu yang lain.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Terasa begitu sejuk. Mataku menyapu setiap sudut kafe ini dan kudapati bahwa diriku benar-benar sendiri, di pojok dekat pintu masuk dan menghadap jalan. Tidak ada yang berubah dari kafe ini, masih persis sama dengan tiga tahun lalu ketika kita berdua bersama untuk terakhir kalinya.

Meja dan kursi kayunya masih bertahan dengan tatanan yang persis sama meski jelas-jelas semakin renta dan semakin kecokelatan menampakkan guratan waktu dari musim ke musim. Temboknya masih saja putih yang menolak luntur dan kaca-kaca jendelanya masih saja menjadi tempat embun-embun tertidur. Hanya satu yang berbeda, yang tiada lain adalah para pelayan di kafe ini, yang semuanya kini sudah tak kukenali lagi.

Manusia memang berganti-ganti, tetapi manusia menetap dalam ruang dan waktu yang abadi, dalam aliran ingatan dan sejarah yang tidak pernah benar-benar selesai. Bukan sebuah kesengajaan aku datang kembali ke kota ini dan bukan sebuah kesengajaan pula aku berada di dalam kafe ini sehingga aku harus mengingatmu lagi.

Segalanya terasa berlalu begitu saja dari saat ke saat, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dan dari tahun ke tahun; melampaui yang telah lalu, yang sekarang, dan yang akan datang. Dan selama itu pula aku tiada lagi bertemu atau berpisah dengan siapa pun, dan aku tidak pernah memikirkannya ataupun menginginkannya karena pikiranku dan keinginanku telah berhenti pada hari-hari ketika kamu masih bersamaku.

Lalu mataku mengarah ke halaman kafe, di mana daun-daun dan bunga-bunga bergoyang-goyang seperti sedang menari dengan selingan puisi para penyair tua yang telah lama mengalami cinta dan begitu memahaminya.

Pintu kafe berderit, sepasang laki-laki dan perempuan dengan pakaian sedikit kuyup melangkah masuk dengan saling menggenggam tangan.

Dulu aku juga hampir selalu menggenggam tanganmu. Dulu, di pantai di antara debur ombak yang menghempas karang, buih-buih yang memutih, desah pohon nyiur yang melambai-lambai, dan kepak sayap burung-burung yang berputar-putar di cakrawala lalu menembus awan yang berarak menyibak senja yang merah yang perlahan meremang dan menyergap perasaan untuk menyisakan bayang-bayang yang saling berciuman.

Dulu, di antara rak buku di sebuah toko buku lama di Kota Lama ketika kemudian kita berselisih tentang siapa yang terbaik di antara Tolstoy, Dostoevsky, Kafka, dan Hemingway. Dan dulu, di taman kota. Dan dulu, di bioskop. Dan dulu, di warung bakso pinggir jalan. Dan dulu...Dan dulu...Dan dulu..., di hampir setiap tempat di sudut kota ini.

Dan memang semua itu hanyalah dulu ketika kamu masih bersamaku. Ketika takdirku dan takdirmu saling bertemu meski ternyata hanya untuk berlalu sehingga kini hanya ada angin yang mengembara dari waktu ke waktu yang membawa suatu kenangan dari suatu masa yang entah telah berapa lamanya sehingga membuatku dapat selalu mengingat perpisahan yang terhampar begitu nyata.

“Kamu juga tahu, kedua orang tua kita tidak pernah menyetujui semua ini,” katamu ketika itu, ketika sunyi masih saja melilit-lilit lidahku. Lalu kamu memberikan kalung salibmu kepadaku. “Aku harap kamu selalu mengingatku.”

Kini aku merasa sangat kesepian ketika kudapati hujan menyisa rintik-rintik yang semakin jarang dan separuh piringan merah di cakrawala yang kian meremang di balik bayangan mulai menampakkan diri dari balik tirai awan kelabu yang perlahan tersibak.

Aku keluar kafe dan menyalakan motor untuk segera melanjutkan perjalanan pulang. Lampu-lampu jalan mulai menyala dengan sepi dan terasing dan terasa begitu muram menyambut langit yang semakin mengelam yang sebentar lagi benar-benar jadi malam.

Sisa-sisa hujan menggenang di lubang-lubang jalanan dan tertidur di kaca-kaca, gedung-gedung, dan memberat di dedaunan yang perlahan melorot dengan anggun dan tanpa beban. Dan sisa-sisa dingin masih begitu terasa sehingga membekukan ingatan-ingatan tentangmu yang membuat semua ingatan itu semakin tiada bisa kutanggalkan.

Terdengar olehku suara bedug bertalu-talu dan adzan magrib mulai berkumandang. Dan aku tahu sebaiknya aku membelokkan motorku ke sebuah masjid. Tapi aku memilih untuk terus melaju di antara bangunan-bangunan megah dan tinggi kota ini, yang senantiasa membisu bagai angkuh dan tiada peduli. []

PENULIS :
Foto
Femas Anggit Wahyu Nugroho
Lahir dan tinggal di Pati, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya dimuat di media massa digital dan cetak. Dapat disapa melalui Instagram: @femasn