Gemati - Suara Rakjat
Menerka

Sekolah Memang Secandu Itu!

Femas Anggit Wahyu Nugroho | 25 Jul 2026


Cover

Agama itu candu, kata Karl Marx. Kepala Anda bisa saja langsung memunculkan tanduk ketika membacanya. Mungkin Anda akan menjelma banteng yang menyepak-nyepakkan kakinya ke belakang, lalu menyeruduk siapa saja yang melontarkan kutipan itu.

Namun, lain jadinya jika Anda membaca buku Sekolah Itu Candu karya Roem Topatimasang. Membacanya, mungkin Anda akan manggut-manggut, dengan dahi berkerut dan bibir yang nyengar-nyengir.

Dalam buku ini, Roem membicarakan serba-serbi dunia sekolah. Dimulai dengan sebuah prolog berlatar tahun 2222 yang mengisahkan seorang tokoh bernama Sukardal yang menemukan sebuah naskah berdebu. Terdapat peringatan resmi mengenai larangan yang ada pada naskah itu, yang justru membuat Sukardal penasaran. Maka, serampangan ia membuka naskah itu, dan judulnya ternyata terdengar begitu asing untuknya: Sekolah.

Lho, kok, terdengar asing? Nah, itulah! Perlu diingat latar tahunnya adalah 2222. Apakah ini mengisyaratkan suatu perubahan radikal mengenai sekolah sehingga pada tahun tersebut istilah sekolah justru asing bagi Sukardal?

Untuk mengetahui jawabannya, Anda perlu membaca tulisan-tulisan dalam buku ini dengan hikmat kebijaksanaan. Terdapat sejumlah 16 tulisan, yang semuanya membicarakan sekolah. Dalam tulisan-tulisan tersebut, Roem mempersoalkan berbagai hal, mulai dari sejarah sekolah, permasalahan pengelolaan sekolah yang mirip perusahaan, hingga matinya fungsi sekolah.

Namun di sini, saya (yang saat ini sedang menempuh PPG Calon Guru) hanya akan mencoba membicarakan 1 di antara 16 tulisan itu  yang setidaknya sangat nempel di kepala saya, yang judulnya Robohnya Sekolah Rakyat Kami, judul yang agaknya membuat ingatan tertuju kepada cerpen legendaris karya A.A. Navis, Robohnya Surau Kami.

Nah, terkait esai berjudul Robohnya Sekolah Rakyat Kami itu, saya tidak hanya membicarakan isinya.  Saya juga akan mencoba mengontekstualisasikannya dengan kondisi persekolahan kita sekarang.

Dalam tulisan Roem itu, dikisahkan bahwa di suatu kota kecamatan kecil, berdirilah sebuah bangunan sekolah yang tidak ada istimewanya. Bangunan itu berpagar kayu, lantainya campuran semen-pasir yang sudah retak, dindingnya dari kayu papan dan anyaman pelepah sagu, sementara atapnya dari anyaman daun sagu.

Namun demikian, anak-anak penduduk kota kecil itu dan desa-desa di sekitarnya bersekolah di sana. Untuk keperluan belajar sehari-hari, disepakati menjadi tanggung jawab Kantor Pak Camat. Selebihnya, seperti bangunan sekolah itu sendiri, pemeliharaan, perbaikan, dan pengadaan sarana baru merupakan usaha swadaya masyarakat.

Begitulah, anak-anak menjalani hari-hari belajar di bangunan sederhana itu. Pada hari Sabtu, anak-anak bebas dari pelajaran karena hari itu adalah Hari Krida. Anak-anak lebih difokuskan untuk membabat rumput, memperbaiki pagar rusak, membersihkan selokan, dan sebagainya.

Sebagian besar kegiatan persekolahan melibatkan murid, guru, dan masyarakat itu sendiri. Tiap empat bulan sekali, semua guru dan murid pergi ke hutan terdekat untuk mencari kayu untuk pagar baru atau pelepah dan daun sagu segar untuk anyaman dinding dan atap baru.

Tiap enam bulan sekali—musim panen raya—sekolah mengatur dan menggerakkan murid untuk ke ladang-ladang penduduk, dan bagi hasil yang diperoleh sepenuhnya untuk murid itu sendiri. Sementara itu, tiap akhir tahun ajaran, terdapat acara kenduri atau syukuran yang printilannya dipersiapkan oleh guru, penduduk, dan murid laki-laki, sementara urusan dapur untuk kenduri diurusi oleh guru, penduduk, dan murid perempuan.

Seiring waktu yang berlalu, sekolah itu tidak lagi memiliki jejak. Memang ada bangunan sekolah yang baru yang katanya “lebih layak disebut sebagai sebuah sekolah.” Tetapi, kegiatan yang berjalan sudah sama sekali lain. Tidak ada lagi kerja bakti atau gotong royong pada musim panen raya. Praktis, kegiatan para murid lebih terfokus di dalam kelas, dengan selingan di luar kelas dalam suasana yang “lebih santai” dan “tanpa beban kerja.”

Pokok persoalan yang dibicarakan di sini menyoroti betapa sekolah sekarang menjadi semakin elitis. Seolah sekolah adalah sebuah tempat sakral, tempatnya kaum terdidik yang bergelut dengan buku-buku, dan oleh karenanya mesti dipisahkan dari hal-hal atau pekerjaan-pekerjaan yang “berbau tanah.” Ini sungguh ironis, karena ternyata sekolah justru menjadi alat ampuh untuk menciptakan “khalayak yang tercerabut dari akarnya.”

Dunia persekolahan kita sekarang pun demikian, semakin elitis dan berada di menara gading. Ki Hadjar Dewantara kini tinggal quote saja yang sering dikutip di sana sini, di seminar-seminar, dan di pelatihan-pelatihan, tiada lain untuk sekedar gagah-gagahan atau supaya dianggap menghormati dan melestarikan pemikiran sosok pendahulu.

Dalam kenyataannya, pemikiran Ki Hadjar mengenai tri pusat pendidikan telah diruntuhkan. Diruntuhkan oleh kita sendiri yang sering mengutip pemikiran atau pernyataan-pernyataannya!

Mendirikan Sekolah

Sekarang coba perhatikan sekolah-sekolah di sekitar Anda. Sekolah-sekolah semakin berlomba-lomba mendirikan gedung-gedung megah dan pagar-pagar yang tinggi, seolah memang ingin “menyepikan” dirinya dari masyarakat.

Sementara itu, orang tua memasrahkan segala pendidikan anaknya pada sekolah, seolah sekolah itu laundry. Anak Anda nakal dan tidak beres? Masukkan saja ke sekolah! Atau, nah ini, ada anak nakal dan tidak beres? Masukkan saja ke barak militer! Nah, apa tidak hebat?

Gambaran sekolah seperti di masa sekarang memang tampaknya sudah usang. Karena itulah, pada epilog buku ini, Sukardal yang hidup di tahun 2222 dan telah selesai membaca habis naskah berdebu itu menghubungi seorang Profesor di bidang kajian Lembaga Sejarah Kebudayaan untuk berdiskusi. Singkat cerita, mereka berkumpul dan berdiskusi bersama warga lain di Balai Pertemuan Rukun Tetangga.

Di sela-sela diskusi, Sukardal menawarkan untuk belajar menyilang labu hasil temuannya sendiri, di sekolahannya yang tiada lain adalah kebun sayur di tanah pertanian di belakang rumahnya. Maka, keesokan harinya para warga berkumpul di tanah pertanian Sukardal. Di sana, mereka belajar, dan, nah inilah, kali ini Sang Profesor justru menjadi yang paling banyak bertanya dan dengan khidmat mendengarkan penjelasan dari Sukardal dan beberapa tetangganya!

Namun demikian, di masa sekarang tampaknya sekolah telah menjadi lembaga “suci.” Karenanya, hanya sedikit dari kita yang berani menggugat makna persekolahan yang ada sekarang. Bahkan, ketika relevansi bentuk sekolah seperti sekarang mulai dipertanyakan, toh kita masih bergantung pada bentuk sekolah yang jamak kita jumpai sekarang ini. Nah, tampaknya sekolah memang secandu itu!

Identitas Buku:

Judul               : Sekolah Itu Candu

Penulis            : Roem Topatimasang

Penerbit           : Insist Press, Cetakan ke-8 (Edisi Klasik Perdikan), Juli 2023

Tebal               : xvi + 162 halaman

ISBN               : 978-602-0857-96-1

PENULIS :
Foto
Femas Anggit Wahyu Nugroho
Lahir dan tinggal di Pati, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya dimuat di media massa digital dan cetak. Dapat disapa melalui Instagram: @femasn