Anak-anak usia lima tahun pun paham, kalau bunglon melakukan penyamaran (mimikri) supaya dapat mengelabui musuhnya di alam rimba; punuk yang dimiliki seekor unta adalah tempat menyimpan cadangan air dan lemak untuk bertahan di hidup di padang pasir. Apa yang disebutkan tadi, adalah adaptasi biologis yang dilakukan oleh flora dan fauna. Adaptasi itu dilakukan dengan tujuan utamanya, adalah bertahan hidup. Lantas, bagaimana dengan manusia? Sudahkah kita melakukan adaptasi secara biologis dan kultural untuk bisa bertahan hidup?
Pasca pandemi covid-19—dengan segenap konspirasinya—manusia dituntut bertransformasi; beradaptasi dengan perubahan zaman nun kompleks. Acapkali, kita berjumpa dengan istilah-istilah yang merepresentasi kondisi zaman. Mulai dari revolusi industri 4.0; pasca-modern (post-modernisme); pasca-kebenaran (post-truth); dan, era masyarakat 5.0. Dari term atau jamaknya istilah yang diciptakan oleh kaum cerdik pandai, kita toh mendapati cetak miring atas zaman yang kita huni, yakni teknologi.
Di zaman ini, teknologi menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Barang siapa yang tidak mengenal atau tidak bisa menggunakan teknologi, ia akan tertinggal. Bahkan, zaman sekarang, gawai menjadi organ tubuh manusia. Menaikan practices seseorang di mata masyarakat dan, seseorang paketan data internet menjadi kebutuhan primer.
Kita jadi teringat esai gubahan Mahbub Djunaidi bertajuk TELEPON (Harian Kompas, 28 Desember 1986). Esai yang bisa kita baca di buku berjudul Asal-Usul (IRCiSoD, 2017) itu, menunjukkan kesusahan Mahbub dalam menghadapi dinamika zaman yang ditandai dengan hadirnya teknologi-teknologi mutakhir. Yang, pada waktu esai itu ditulis, telepon rumah menjadi barang mewah yang tidak semua orang miliki. Di awal esai itu terbaca:
“Nomor berapa telepon di rumah? Wah, belum ada. Tiap menjawab itu rasanya diriku tidak punya arti. Zaman sekarang tidak punya telepon berarti menjadi orang Sudra yang diluar perhitungan. Bahkan boleh jadi kita dianggap tidak ada di dunia ini. Sebaliknya, orang yang memiliki pesawat telepon lebih dari satu berarti dia makhluk luar biasa.”
Tulisan Mahbub di atas, kiranya menggambarkan kondisi negara kita setengah abad lalu. Yang mana, teknologi telekomunikasi menjadi inti kehidupan bermasyarakat. Bahkan, sampai-sampai, Mahbub menggambarkan seseorang yang tidak memiliki pesawat telepon waktu itu bak orang Sudra yang dalam kebudayaan Hindu-India adalah di lapisan masyarakat paling bawah. Lalu, bagaimana sekarang?
Kita rasa, semuanya punya gawai. Keponakan saya yang berumur lima tahun pun punya gawai yang digunakan untuk scroll video pendek di YouTube. Dan, kalau tiba-tiba video yang ditonton itu galat, ia memberontak. Menangis, karena jaringan internetnya terputus. Ini gawat! Apakah manusia sekarang mengalami kecanduan teknologi sejak dini?
Yang jelas, kita harus pintar-pintar menggunakan teknologi dalam kehidupan kita. Posisi kita adalah subjek teknologi, bukan objek teknologi. Namun, malahan, justru kita yang dikendalikan oleh teknologi. Coba kita hitung sendiri, dalam dua puluh empat jam hidup kita, berapa jam kita menggunakan gawai: mengakses informasi, memperbarui gaya terkini, dan mengikuti gerak-gerik public figure yang kita banggakan.
Nah, yang terakhir tadi secara tidak sadar, diderita sebagian besar masyarakat. Sebagai akibat turunan dari teknologi, khalayak mengonsumsi pengetahuan yang setengah matang (kemampo) sehingga pengetahuan yang didapatkan tidak penuh dan nikmat, juga validitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ibaratnya, kita makan buah yang setengah matang dan rasanya kalau tidak kecut, ya hambar.
Lebih-lebih, konten-konten yang dikonsumsi, diproduksi oleh orang-orang yang tidak pakar atau tidak mempunyai konsentrasi pada tema konten yang padahal, harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah yang paling tidak, menyertakan rujukan yang absah. Tetapi, meskipun demikian, konten-konten yang disajikan tadi sangat laris. Konsumennya tidak menilai isinya. Situasi ini, pada gilirannya membawa kita kepada kondisi matinya kepakaran.
Matinya kepakaran, sebagaimana yang dijelaskan Tom Nichols dalam Matinya Kepakaran (Kepustakaan Populer Gramedia, 2018) adalah kondisi atau zaman di mana hancurnya klasifikasi antara orang awam dengan pakar; guru dengan murid; orang yang benar-benar tahu dengan orang yang sok tahu dengan hanya mengutip dari Google, Wikipedia, YouTube, dan media sosial lainnya. Ini adalah situasi membahayakan!.
Bahaya itu disebabkan oleh watak masyarakat yang padahal, mereka punya akses tidak terbatas untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Tetapi, mereka memiliki keterbatasan kemauan atau niat untuk mempelajarinya. Bahkan, di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat yang kita anggap sebagai negara super power, adidaya, pemegang poros dunia, dan yang kita anggap masyarakatnya berpendidikan tinggi, ternyata mereka juga merendahkan apa yang dikatakan dan disarankan para pakar. Lalu, bagaimana kalau di Indonesia.
Dalam konteks ini, di Indonesia, apa yang dikatakan pakar sering kali tidak didengarkan. Tetapi, selama yang berbicara adalah public figure idolanya maka selama itu akan digugu dan ditiru ucapan dan polah-tingkahnya, termasuk atribut yang ia kenakan.
Termasuk para politisi yang kita pilih setiap lima tahun sekali. Mereka mengelak dari saran atau masukan dari pakar sebelum menghasilkan kebijakan negara untuk rakyat. Mereka tidak peduli itu. Yang penting, lewat kebijakan itu, kepentingan mereka tercapai meski menyengsarakan rakyat.
Inilah keadaan zaman yang harus kita jalani. Dan, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus beradaptasi dengan keadaan kita; dengan keadaan negara kita—yang wakil presidennya Gibran—yang entah berantah kondisinya sekarang ini. Carut-marut. Juga, termasuk teknologi yang semakin cepat dan menggilas peran manusia.
Jadi, apakah kita mau membuka diri dengan beradaptasi dengan kondisi ini? Yakni belajar dengan kecerdasan buatan, belajar berdagang lewat media sosial. Atau, kita tetap taken for granted dengan mempertahankan nilai dan kebudayaan lama yang mungkin itu tidak relevan dengan zaman? Demikian.
#Adaptasi #DinamikaZaman #Teknologi #MahbubDjunaidi #TomNichols
#MatinyaKepakaran