Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Dari Teknik ke Rekayasa

Joko Priyono | 18 Jun 2026


Cover

Meski tidak wajib, perubahan penamaan program studi teknik menjadi rekayasa yang ramai dibahas para warganet menarik ditelaah secara linguistik. Itu didasarkan pada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 96/B/KPT/2025 tentang Nama Program Studi pada Jenis Pendidikan Akademik dan Pendidikan Profesi.

Perbincangan yang menguar, tak lepas pada rasa kurang sreg yang muncul. Naga-naganya penting untuk menelaah wacana akan keberadaan lema teknik dan rekayasa. Lema teknik dalam sejarah menjadi penanda penting pada abad XX.

Pada saat itu, di Hindia Belanda didirikan sekolah tinggi teknik pertama. Yaitu, Technische Hoogeschool te Bandung (THB) pada 13 Juli 1920–yang kemudian hari dikenal dengan Institut Teknologi Bandung.

Meski demikian, pembabaran teknik di masa kolonial cukup pelik. Istilah itu memuat keterhubungan ilmu dan teknologi (iltek), yang memang baru berkembang pada dekade awal abad ke-20. Ini juga ditopang dengan pengembangan sekolah kejuruan maupun kursus teknik, seperti pengerjaan kayu, logam, mekanik otomotif, dan listrik.

Pada praktiknya, itu akan terhubung pada perkembangan bahasa Melayu. Jérôme Samuel menjelaskan secara detail lewat esai “Penerjemahan Ilmu dan Teknologi di Indonesia” dalam bunga rampai berjudul Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia (Kepustakaan Populer Gramedia, 2009). Ia menegaskan, secara kuantitatif terjemahan teks iltek di dunia Melayu sedikit jumlahnya dibandingkan negara lain di Asia.

“Memang usaha-usaha awal penerjemahan iltek Barat dalam bahasa-bahasa besar di Asia dan Timur Tengah dimulai pada abad ke-17, sedangkan di dunia Melayu arus masuk teks iltek dengan spesialisasi yang setara terjadi 100 sampai 150 tahun kemudian atau lebih,” terang Jérôme.

Di tanah jajahan, Belanda menganggap urusan teknik itu penting. Selain membagun sekolah, tentu mereka mengurus kurikulum. Pengaruh bahasa Belanda sangatlah lekat dalam sejarah bahasa Indonesia. Para linguis Indonesia pada 1942 membentuk komisi istilah di bawah pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana. Salah satu kerja tersebut membuahkan kamus ilmu teknik pertama dalam bahasa Indonesia berupa Kamoes Istilah sejumlah dua jilid. Di kamus tersebut, kita bisa menemukan lema techniek diartikan sebagai téknik.

W. J. S. Poerwadarminta dapat menyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). Sebagai batang tubuh bahasa Indonesia, Poerwadarminta telah memasukkan lema téknik dengan keterangan: (1) hal mengerdjakan (mengatur dsb) segala sesuatu jg perlu untuk membuat sesuatu (hasil kesenian dsb), (2) peladjaran dan pengetahuan tt aturan (hukum dsb) jg berkenaan dng kesenian (spt karang mengarang, lukis-melukis dsb), dan (3) kepandaian membuat sesuatu jg berkenaan dng hasil keradjinan (membuat bangun-bangunan dsb).

Tak jauh dari itu, beberapa kalangan partikelir yang bekerja di perusahaan kereta api, menyusun Kamus Istilah Teknik, masing-masing Bahasa Belanda–Bahasa Indonesia (1950) dan Bahasa Inggris–Bahasa Indonesia (1952). Beberapa nama penting di sana adalah BS. Anwir, Basir Latif, B. Sjarif, dan M. Pamenan. Kamus itu memuat beragam istilah dalam keilmuan teknik yang berguna di kalangan pendidikan dan industri. Itu sekaligus menegaskan upaya perjuangan bahasa Indonesia menuju ke arah bahasa keilmuan.

Bagaimana keterhubungannya dengan rekayasa? Lema itu memang sudah lama mendekam dalam kamus, misalnya di Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994) susunan Sutan Mohammad Zain dan J. S. Badudu, mengartikan rekayasa sebagai “penerapan kaidah-kaidah ilmu (terutama ilmu teknik) dl pelaksanaan pekerjaan mulai dr perencanaan, pembuatan konstruksi bangunan, peralatannya, dll.”

Ada semacam persaingan antara lema teknik dan rekayasa, meski jika ditilik dalam ketubuhan sejarah sejak kolonialisme, kita akan merasa bahwa keduanya tak bisa disamakan. Lema rekayasa yang diajukan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi agaknya tak lepas dari perubahan di abad XXI. Ini mengingat rekayasa itu terserap dari bahasa Inggris, engineering.

Pada sebuah waktu, saya berkomunikasi secara daring dengan Hans Pols, cendekiawan di Universitas Sydney, Australia yang menyusun buku Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia (Kompas, 2019). Saat itu kami menyoal perkembangan bahasa Indonesia dalam tarikan kolonialisme hingga kini. Pada abad XXI, ia menegaskan, bahasa Inggris yang mendominasi dalam istilah ilmu dan teknologi.

Pengarusutamaan lema rekayasa kelihatannya juga tak lepas dari gagasan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang diajukan oleh Presiden Qualcomm Inc, Harvey White yang kemudian pada 2007 di Amerika Serikat, secara perundangan disahkan oleh Presiden George W Bush. Pada perkembangannya, gagasan itu dirasa kurang. Butuh keterlibatan ilmu dan kesenian. Kemudian diubah menjadi STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).

Di beberapa kalangan intelektual Indonesia memadankannya dengan TRIMS (Teknologi, Rekayasa, Ilmu Pengetahuan, Matematika, dan Seni). Meski begitu, masih banyak pula yang masih kenes menggunakan STEM, alih-alih gagasan itu sejatinya sudah direvisi menjadi STEAM. Persaingan antara lema teknik dan rekayasa, kemudian bertransformasi menggantikan.

Itu juga diperkuat gagasan pengembangan program studi pada relevansi industri. Naga-naganya memang lema teknik kelak akan lenyap ditelan zaman, dan mungkin diikuti sejarah penting yang pernah tertulis.[]


PENULIS :
Foto
Joko Priyono
Fisikawan Partikelir dan Budayawan. Penulis Buku Alam Semesta dan Kebudayaan Berpengetahuan (2025). Sedang meriset perkembangan wacana sains dan teknologi di Indonesia 1945–1958.