Gemati - Suara Rakjat
Menerka

Menyelami Pemikiran Romo Magnis: Demokrasi, LGBT, dan Feminisme

Adzin Aris Aniq Adani | 03 Jul 2026


Cover

Siapa yang tidak mengenal Prof. Dr. Frans Magnis-Suseno SJ? Romo Magnis, seorang warga-kenegaraan Jerman yang sejak 1961 memilih untuk menetap di Indonesia. Ia mendapatkan gelar doctor dalam ilmu filsafat dari Universitas Munchen dengan disertasi Normative Voraussetzungen im Denken des Jungen Marx (1843-1848).

Ia adalah guru besar filsafat sosial pada STF Driyakarya di Jakarta dan guru besar luar biasa di Fakultas Pascasarja Universitas Indonesia. Juga, dosen tamu pada Geschwister-Scholl-Institut-Universitas Munchen, pada Hochshule fur Philosophie, Munchen, dan pada Fakultas Teologi dan Teori Politik di Pullach, Yogyakarta dan Munchen.

Romo Magnis adalah guru bangsa. Dedikasi dan nasihat-nasihat kehidupan dalam pelbagai aspeknya tidak terbantahkan. Utamanya nasihat-nasihat kehidupan politik bangsa ini yang semakin kacau.

Di usianya yang senja, sosok yang akrab disapa Romo Magnis ini tetap menjadi “hati nurani” bangsa yang produktif. Beliau bukan sekadar rohaniawan Katolik yang berbicara di balik altar, melainkan seorang filsuf dan intelektual publik yang tajam dalam membedah fenomena sosial.

Melalui bukunya, Demokrasi, Ateisme, Seksualitas (Gramedia Pustaka Utama, 2025), Romo Magnis kembali mengajak kita menyelami kedalaman isu-isu kontemporer yang tengah mengguncang fondasi masyarakat kita di abad ke-21 ini.

Buku ini berisi kumpulan esai yang disusun dalam empat bab besar. Di bab-bab awal, Romo Magnis mengajak para pembaca untuk menyusuri lorong etika politik.

Dengan ketajaman analisisnya, beliau membedah isu kedaulatan rakyat dan krisis demokrasi dengan pendekatan komparatif yang menarik, yakni membandingkan etika politik Jawa––yang cenderung mementingkan harmoni hierarkis––dengan nilai-nilai politik Barat––yang mengedepankan hak individu.

Sebagaimana dirumuskan oleh Immanuel Kant. Menurut beliau, untuk mencapai masyarakat demokratis yang ideal, kedua corak politik tersebut harus diintegrasikan dan dicari titik konvergennya.

Demokrasi

Setelah mengulas isu demokrasi, Romo mulai beralih ke persoalan yang lebih substansial, yakni Pancasila. Menurut Romo Magnis, Pancasila bukan sekadar rumusan ideologis belaka, ia adalah sebuah “titik temu” atau konsensus sosiologis yang krusial bagi bangsa ini.

Pancasila adalah kristalisasi nilai luhur yang memandu bangsa ini agar tidak terombang-ambing di tengah arus ideologi global. “Pancasila tidak kurang dan tidak lebih”, ujar Romo Magnis yang hendak menegaskan kefinalan Pancasila sebagai dasar negara, identitas, dan falsafah yang menyatukan segala macam perbedaan suku, ras, dan agama.

Namun, daya tarik utama buku ini justru muncul ketika Romo Magnis memasuki wilayah yang lebih personal dan sensitif: hubungan antara filsafat, agama, sains. Hingga isu seksualitas.

Beliau menyoroti ketegangan yang sering terjadi antara sains dan agama sebagai bentuk “ketidakdewasaan intelektual.” Alih-alih mendikotomisasi, Romo Magnis menawarkan visi yang lebih bijak, di mana ketiganya dilihat sebagai kolega dalam usaha menciptakan kehidupan yang lebih bermartabat.

LGBT

Masuk ke bab akhir, kita akan menemukan kegelisahan Romo Magnis terhadap fenomena feminisme dan LGBT yang acap kali menciptakan diskriminasi.

Dengan pandangannya, Romo Magnis melihat isu ini tidak hanya sebagai perdebatan moralitas belaka, melainkan sebagai sebuah fakta sosial yang nyata. Sehingga, kita tidak bisa hanya menggunakan logika hitam putih untuk membaca fenomena ini.

Saya melihat relevansi pemikiran ini di mana saya tinggal, yakni Solo. Bahwa, keberadaan komunitas LGBT bukanlah isapan jempol belaka.

Meskipun mereka bergerak dalam ruang yang sangat eksklusif dan terbatas demi keamanan dari stigma bahkan diskriminasi sosial, kehadiran mereka adalah representasi dari subkultur yang terus tumbuh di tengah masyarakat urban yang mulai bergeser.

Menariknya, Romo Magnis melihat gelombang LGBT sebagai fakta ilmiah yang harus dilihat dengan kaca mata objektif nan bijak. Beliau tidak melihat kecenderungan homoseksual sebagai anomali medis atau kondisi patologis yang harus “disembuhkan”.

Sebaliknya, beliau menyebut fenomena feminisme dan LGBT sebagai signa temporum—tanda-tanda zaman. Di titik inilah sisi sosiologis Romo Magnis bersinar.

Dalam konteks agama, beliau berargumen bahwa institusi agama tidak boleh menjadi institusi kaku yang menutup mata terhadap dinamika zaman, seperti LGBT. Agama harus ikut serta merespon isu ini.

Beliau membawa kita pada sebuah analogi sejarah yang akrab: hukuman mati. Selama hampir dua milenium, banyak agama dan budaya menganggap hukuman mati sebagai keadilan yang mutlak.

Namun, tragedi kemanusiaan di bawah rezim Nazi Jerman mengubah segalanya. Dunia tersadar bahwa martabat nyawa manusia tidak bisa ditawar. Kesadaran kolektif global ini akhirnya mendorong Gereja Katolik untuk merevisi tafsirnya terhadap hukuman mati.

Menurut Romo Magnis, reinterpretasi ini bukanlah sikap “ikut-ikutan” tren dunia, melainkan sebuah bentuk refleksi teologis-sosiologis. Agama menyadari bahwa tafsir hukum yang selama ini dipegang mungkin tidak lagi selaras dengan semangat kasih yang menjadi inti ajaran. Logika yang sama kini ditantang oleh isu feminisme dan LGBT.

Kemana Feminisme?

Gerakan kesetaraan gender mendorong institusi agama, baik Katolik maupun Islam, untuk meninjau kembali struktur patriarki yang telah mapan.

Pertanyaan-pertanyaan kritis seperti peran perempuan dalam kepemimpinan agama—seperti tahbisan imam dalam Katolik—bukanlah ancaman, melainkan panggilan untuk melihat kembali apakah aturan tersebut bersifat ilahi atau sekadar konstruksi budaya masa lalu.

Melalui buku ini, Romo Magnis berpesan bahwa agama seharusnya menjadi katalisator bagi martabat manusia, bukan malah penghambatnya. Segala bentuk tanda zaman ini menantang kita untuk berani terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan jati diri.

Pada akhirnya, Demokrasi, Ateisme, Seksualitas (2025), buku terbaru Romo Magniz, adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin melihat Indonesia dengan kaca mata yang lebih inklusif dan dewasa dalam berbangsa dan beragama.

 

Judul: Demokrasi, Ateisme, Seksualitas: Catatan tentang Guncangan-Guncangan Budaya di Abad Ke-21

Penulis: Franz Magnis-Suseno

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Desember 2025

ISBN: 9786020685687

PENULIS :
Foto
Adzin Aris Aniq Adani
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. Belajar filsafat dan berfilsafat sampai ditanya malaikat kubur. IG: @Bonggolpd