Gemati - Suara Rakjat
Siraman Rohani

Idul Adha dan Hikmah Perayaannya


Cover

Hari Raya Idhul Adha, mengandung nilai-nilai spiritual dan sosial yang sangat luhur. Ia mengajarkan kepada umat Islam tentang makna keikhlasan dalam beribadah, ketundukan total kepada Allah Swt., semangat pengorbanan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim As. dan Nabi Ismail As., serta kepedulian sosial melalui syariat kurban yang menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.

Pada hari-hari yang penuh berkah ini, kaum muslimin menikmati hidangan daging kurban yang termasuk makanan yang halālan ṭayyiban, yakni halal secara syariat dan baik bagi kesehatan. Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur tentang kehalalan makanan dari sisi hukum, tetapi juga menekankan aspek kebaikan, kebersihan, kesehatan, dan kebermanfaatannya bagi kehidupan manusia.

Karenanya, Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an: “Wahai manusia, makanlah sebagian makanan di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168).

Dalam Tafsīr Al-Qur’ān al-‘Azhīm, Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut pernah dibacakan di hadapan Nabi Muhammad. Lalu Saad bin Abi Waqash berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku dijadikan sebagai hamba yang doanya diijabah.” Riwayat ini menunjukkan bahwa makanan yang halal dan baik memiliki keterkaitan erat dengan kebersihan jiwa, keberkahan hidup, dan terkabulnya doa seorang mukmin.

Dalam kesempatan ini, saya akan memberikan beberapa hikmah dibalik Idhul Adha yang identik dengan makan-makan. Bakar-bakar.

Pertama, adalah pentingnya ketakwaan dan ketaatan kepada Allah Swt. Idhul Adha mengajarkan kepada kita untuk mendahulukan perintah Allah di atas segala sesuatu, sebagaimana tercermin dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ini selaras dengan, “Maka ketika keduanya telah berserah diri.” (QS. As-Shaffat: 103).

Imam Qatadah menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim menyerahkan anaknya kepada perintah Allah. Sedangkan, Nabi Ismail menyerahkan dirinya demi melaksanakan perintah Allah Swt.

Bahkan dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Nabi Ismail meminta ayahnya agar mengikat dirinya dengan kuat, menajamkan pisau, dan mempercepat proses penyembelihan agar lebih ringan dijalani. Hal ini menunjukkan tingkat keimanan, ketakwaan, dan kepasrahan yang sangat tinggi kepada Allah Swt.

Selain itu, Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al Jami’ Li Ahkaamil Qur’an menerangkan bahwa kisah ini menjadi dasar agung dalam pendidikan tauhid dan pengorbanan, karena cinta kepada Allah harus berada di atas cinta kepada anak, keluarga, dan seluruh kepentingan dunia.

Dari kisah ini tampak jelas bahwa hakikat ketakwaan bukan hanya ucapan, melainkan kesiapan hati untuk tunduk, patuh, dan rela berkorban demi menjalankan perintah Allah Swt., sekalipun sangat berat secara manusiawi. Karena itulah Idhul Adha menjadi madrasah agung dalam membentuk jiwa tauhid, kepatuhan, dan penghambaan total kepada Allah Ta‘ala.

Kedua, adalah keikhlasan dalam beribadah. Bahwa, Kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan bukti ketulusan niat dan pendekatan diri kepada Allah Swt. Sebagaimana dalam “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Syekh Muhammad Sayyid Ath-Thanthawi dalam Kitab Tafsir Al-Wasithb eliau menyatakan: “Yang dinilai oleh Allah bukanlah daging dan darah hewan kurban itu sendiri, melainkan ketakwaan, rasa muraqabah (merasa diawasi Allah), rasa takut kepada-Nya, istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya, dan keikhlasan dalam beribadah.”

Beliau juga menjelaskan bahwa ayat ini menjadi kritik terhadap tradisi kaum musyrikin Jahiliyah yang melumuri Ka'bah dengan darah hewan kurban dan menebarkan daging di sekitarnya sebagai bentuk pengagungan. Allah Swt. menegaskan bahwa keridhaan-Nya tidak diperoleh melalui simbol-simbol lahiriah semata, tetapi melalui ketakwaan hati dan kemurnian niat.

Ketiga, hikmah pentingnya pengorbanan dan pendidikan jiwa. Ibadah kurban mendidik seorang muslim agar memiliki jiwa pengorbanan, kesabaran, dan kesiapan mengorbankan harta serta tenaga di jalan Allah Swt. Kurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan, tetapi juga latihan ruhani untuk menundukkan hawa nafsu, membersihkan sifat kikir, dan menumbuhkan semangat pengabdian kepada Allah Ta'ala.

Allah Swt. berfirman: “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sampai kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92) Ayat ini menunjukkan bahwa pengorbanan merupakan jalan menuju kesempurnaan iman dan kemuliaan akhlak.

Dalam Al-Hafizh Nuruddin Ali bin Abi Bakr Al-Haitsami menjelaskan didalam kitab Majma‘ Az-Zawā’id wa Manba‘ Al-Fawā’id bahwa beberapa hadis tentang keutamaan kurban. Di antaranya hadis dari Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:

“Barang siapa berkurban dengan hati yang ikhlas dan mengharap pahala dari kurbannya, maka kurban itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.” Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah kurban mengandung pendidikan keikhlasan, kesabaran, dan pengorbanan diri demi meraih ridha Allah Swt.

Keempat, hikmah pentingnya jiwa solidaritas sosial. Idhul Adha memperkuat nilai kasih sayang, kepedulian, dan persaudaraan di antara sesama umat Islam.

Ujaran kebencian, kedengkian, penipuan, adu domba, hingga saling mencaci dan merendahkan sesama adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam. Padahal, apabila seseorang benar-benar menyadari besarnya dosa dan kerusakan yang ditimbulkan oleh hal tersebut, niscaya ia akan lebih berhati-hati dalam berbicara dan menjaga lisannya dari perkataan yang menyakiti orang lain.

Nabi Muhammad Saw. telah memberikan peringatan keras agar umat Islam menjaga persaudaraan, menjauhi permusuhan, dan tidak merusak hubungan sosial di tengah masyarakat. Sebagaimana sabda beliau:

“Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu di sini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR Muslim)

Syekh Abdul Muhsin Al-‘Abbad didalam Kitab Syarh Al-Arba‘in An-Nawawiyyah menjelaskan hadist ini maksudnya bahwa Nabi Muhammad Saw. melarang segala bentuk perilaku yang dapat merusak persaudaraan dan keharmonisan sosial di tengah kaum muslimin, seperti hasad, kebencian, tipu daya, saling menjauhi, serta perbuatan zalim terhadap sesama. Menurut beliau, larangan tersebut bertujuan agar umat Islam mampu membangun kehidupan bermasyarakat yang dipenuhi cinta, kasih sayang, persatuan, dan saling menghormati.

Demikian. Semoga beberapa hikmah agung Idhul Adha ini benar-benar menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Juga, memperkuat ketakwaan, menumbuhkan keikhlasan, melatih jiwa pengorbanan, mempererat ukhuwah dan kepedulian sosial, serta menanamkan semangat menjaga persatuan dan ketentraman umat.

PENULIS :
Foto
Dr. K.H. A.M. Mustain Nasoha, M.H., M.A.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta. Ketua Komisi Fatwa MUI Surakarta. Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta.