Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Ikan Setan Merah dan Sapu-Sapu: Sebuah Ancaman bagi Perairan Kita

Muhammad Rafa Briliant | 12 Jun 2026


Cover

Memayu hayuning bawana, adalah falsafah Jawa yang memiliki makna memperindah keindahan dunia atau dapat diartikan menjaga kelestarian dan keselamatan alam semesta. Dari kutipan falsafah tersebut, implementasi menjaga keindahan dunia bukan hanya soal menanam, tapi juga tentang memastikan yang asing tidak merusak yang asli.

Sebelumnya, saya bakal bercerita mengenai salah satu hobi saya, sedari kecil. Hobi itu adalah memelihara ikan. Khususnya, ikan hias. lambat laun pengetahuan saya mengenai jenis ikan semakin tajam, saya sangat menyukuri hal tersebut.

Dari banyaknya ikan yang ada di sekitar perairan kita, kita mengenal jenis ikan asing. Ikan ini merupakan suatu jenis ikan yang bukan berasal dari habitat asli atau daerah sebaran zoogeografinya.

Keberadaan ikan jenis tersebut yang terdapat di suatu wilayah dapat disebabkan oleh campur tangan manusia. Secara sengaja ataupun tidak disengaja.

Sebagian spesies ikan memiliki dampak yang menguntungkan bagi ekosistem dan manusia. Namun di sisi lain, sebagian bersifat merusak dan memunculkan dampak negatif (Alamendah, 2010).

Spesies asing invasif merupakan spesies asing yang dapat beradaptasi pada kondisi ekosistem alami atau ekosistem semi alami. Ini adalah awal perubahan dan mengancam keanekaragaman hayati lokal (Handoyo, 2020).

Mereka masuk bagaikan penjajah. Merebut sumber makanan, habitat, dan bahkan memangsa spesies asli.

Ikan dengan sebutan native species ini, merupakan spesies-spesies yang menduduki suatu wilayah. Atau, ekosistem secara alami tanpa campur tangan manusia (Alamendah, 2010).

Masuknya ikan invasif ke perairan kita memberikan dampak buruk bagi ekosistem lokal. Contohnya pada, spesies ikan sapu-sapu (pterygoplichthys spp) dan setan merah atau red devil (amphilophus citrinellus).

Karakter ikan setan merah yang sangat teritorial dan agresif. Memakan telur dan benih ikan lain, serta kemampuan reproduksinya yang cepat berdampak pada ekosistem dan ketahanan pangan lokal.

Invansi ikan setan merah ini bisa kita tilik danau Toba—di danau Toba, ya. Bukan di Liga Sepakbola Britania. Kehadiran predator agresif ini menyebabkan populasi ikan endemik seperti pora-pora (mystacoleucus padangensis) merosot tajam karena telur dan anakannya dimangsa secara masif (Umar et al., 2015).

Akibatnya, nelayan tradisional mengalami penurunan pendapatan karena jaring mereka kini lebih sering dipenuhi ikan hias liar yang tidak bernilai jual. Fenomena ini membuktikan bahwa masuknya spesies asing yang invasif dapat memporak-porandakan rantai makanan dan melumpuhkan struktur ekonomi masyarakat pesisir dalam waktu singkat.

Di sisi lain, ikan sapu-sapu yang sudah masuk di sungai-sungai Jakarta terutama sungai Ciliwung memberikan ancaman fisik yang tak kalah serius. Ikan ini memiliki kebiasaan membuat lubang sedalam puluhan sentimeter pada struktur tanah di pinggiran sungai sebagai tempat bersarang dan bertelur, membuat struktur tanah rapuh dan rawan longsor.

Selain itu ikan ini juga memiliki kebiasaan memakan telur ikan lokal. Ini menyebabkan penurunan populasi ikan asli. Karena, bentuk fisiknya yang keras, berduri, dan adaptif terhadap perairan tercemar/minim oksigen.

Ikan sapu-sapu ini hampir tidak memiliki predator alami di perairan Indonesia (Li et al., 2019). Kemampuan adaptasi sapu-sapu terhadap limbah berat membuat dagingnya sangat berbahaya jika dikonsumsi manusia karena akumulasi logam berbahaya.

Dari perkara ini, kita mengalamatkan saran kepada para penggemar ikan hias. Meraka harus memahami bahwa membuang peliharaan ke sungai bukanlah solusi, melainkan awal dari bencana ekologi yang serius.

Oleh karena itu, edukasi mengenai etika memelihara ikan invasif harus terus ditingkatkan agar tidak ada lagi pelepasan liar yang merusak alam.

Edukasi ekologis ini bisa kita lihat dari Arief Kamarudin di TikTok. Hal tersebut menjadi sangat krusial dalam menyebarkan kesadaran mengenai bahaya ikan invasif ini secara masif.

Melalui konten aksi nyata menangkap ikan sapu-sapu di sungai Ciliwung, ia berhasil membuka mata publik tentang betapa parahnya dominasi monster ini di perairan kita. Langkah edukasi tersebut perlu didukung dengan program pemerintah berupa penangkapan dan pemusnahan massal secara berkala di titik-titik invasi terparah.

Sinergi antara kampanye kreatif dari influencer dan aksi nyata di lapangan adalah kunci untuk mengembalikan kedaulatan ekosistem air lokal. Jangan sampai kejadian yang telah menimpa berbagai wilayah perairan kita terjadi di wilayah lain, jangan biarkan monster-monster baru menjamah perairan kita.

Seperti itu. Kehadiran ini tidak hanya memicu bencana ekologi dan mengancam keanekaragaman hayati endemik, tetapi juga menghancurkan kedaulatan ekonomi nelayan lokal.

Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antara tanggung jawab penghobi ikan hias, edukasi masif melalui platform digital, serta tindakan tegas dari pemerintah dalam pengendalian populasi guna mengembalikan keseimbangan alam sesuai dengan falsafah memayu hayuning bawana.


PENULIS :
Foto
Muhammad Rafa Briliant
Seorang pecinta ikan sekaligus pecinta lingkungan. Menjalani pendidikan S1 di Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta pada Program Studi Ilmu Lingkungan. Instagram: @brillysanzz