Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Ketika Jalan Tengah Budhis Tersesat di Mal

Rizqi Nur Rahman | 11 Jun 2026


Cover

Di sebuah pagi, saya scroll video-video pendek di Instagram. Dari tatapan reels yang melintas itu, membuat saya termenung sejenak ketika mendapati sebuah mal besar di pusat kota. Di balik layar gawai, saya melihat lampu neon berpendar terang, papan iklan diskon berteriak dari setiap sudut, dan suasana ramai gerai kopi oleh muda-mudi. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas, apa benar mal-mal ini sudah bergeser fungsi menjadi tempat “ibadah” baru.   

Belanja dan konsumerisme bukan lagi sekadar gaya hidup. Melainkan, sebuah ritual kolektif yang ditunaikan. Kita rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan jati diri demi sepotong validasi. Tidak hanya di kota, bahkan ternyata sampai di kampung-kampung pelosok. Lewat layar gawai, arus yang sama meresap ke benak orang-orang, membisikkan ilusi bahwa kebahagiaan sejati selalu ada harganya dan bisa dibeli.   

Di tengah riuh rendahnya suasana mal itu, entah mengapa saya mendadak teringat pada sebuah konsep lama yang pernah saya pelajari dalam ajaran Budha, yakni majjhima patipada, atau jalan tengah. Sebuah ajaran yang sekarang rasanya cuma jadi bisikan sunyi yang tenggelam di tengah kebisingan kota.  

Bagi saya pribadi, jalan tengah ini bukan sebuah kompromi malas untuk cari aman di antara dua pilihan. Jalan tengah adalah sebuah keberanian. Keberanian untuk berdiri tegak menolak dua ekstrem kerakusan yang tanpa batas, atau penyangkalan diri yang berlebihan.   

Saya jadi teringat dengan istilah appicchata. Sebuah istilah yang mengampanyekan kesederhanaan sebuah prinsip bahwa bahagia itu tidak ada hubungannya dengan seberapa banyak barang yang kita timbun di kamar. Kebetulan, saya pernah membaca riset menarik dari Pradana (2025). Di situ, disebutkan bahwa nilai kesederhanaan Budhis ini sebenarnya sangat cocok jadi fondasi gaya hidup minimalis yang belakangan ini lagi tren di kalangan anak muda urban.

Namun, setiap kali mengingat riset itu, saya sering tersenyum kecut. Ironisnya, tren minimalis sekarang malah sering salah kaprah dan ujung-ujungnya jadi ajang belanja baru. Kita bela-belain menguras dompet demi membeli rak kayu estetik ala Skandinavia, hanya agar bisa memamerkan ke orang lain kalau kita sudah "hidup sederhana".   

Realitas  

Sambil menyeruput kopi, jempol saya terus bergerak di layar benda gepeng ini. Kali ini yang muncul adalah berita konflik. Di mana-mana ada egoisme, diskriminasi, dan ketidakadilan yang rasanya sudah menjadi luka kolektif kita bersama sebagai bangsa. Padahal, kalau kita mau menengok kembali, ajaran Budha selalu menawarkan metta (cinta kasih) dan karuna (belas kasih) sebagai obat penawarnya.   

Pikiran saya lalu melayang pada sebuah kajian tentang vasala sutta yang ditulis oleh Bondan Ade Prasetya (2026). Tulisan itu membekas sekali di kepala saya karena menegaskan sebuah prinsip penting rendah atau tingginya martabat seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh dari keluarga mana dia lahir, melainkan dari apa yang dia lakukan.

Menurut saya, etika kesetaraan moral seperti inilah yang sangat kita butuhkan di Indonesia yang penuh dengan perbedaan. Namun, realitas yang saya saksikan di media sosial justru sebaliknya. Polarisasi politik, ejekan terhadap kelompok minoritas, hingga wajarnya ujaran kebencian seolah sengaja dipelihara oleh para elite demi kepentingan pemilu.   

Dari berita politik hingga berita lingkungan, dalam hati saya rasanya makin miris. Konsep paticca samuppada (saling ketergantungan) mengajarkan kepada saya sebuah kebenaran mutlak bahwa manusia dan alam itu satu napas jika alam dirusak, kita sedang merusak diri sendiri.   

Sebenarnya ada secercah harapan kalau kita mau belajar dari sekitar. Saya teringat studi dari Lauw Acep (2025) tentang Buddhist Ecology. Beliau menceritakan kisah-kisah indah tentang bagaimana komunitas Buddhis di berbagai daerah di Indonesia mempraktikkan ritual menanam pohon kembali, mengelola hutan secara etis lewat agroforestri, dan mengedukasi masyarakat berbasis kesadaran lingkungan.

Pengorbanan (Pancasila)

Namun, begitu melihat keluar dari lingkaran komunitas itu, kenyataannya terasa sangat menampar. Hutan terus digunduli dan udara makin sesak demi ambisi industri. Tidak perlu jauh-jauh mencari teori, contoh nyatanya bisa kita lihat di Kalimantan. Hutan adat suku Dayak dibabat habis demi tambang batu bara.

Dan di sinilah hubungan saling ketergantungan (paticca samuppada) itu terasa nyata sekaligus menyakitkan. Listrik yang menerangi tempat saya ini, jangan-jangan berasal dari batu bara yang mengeruk tanah dan merusak ruang hidup saudara-saudara kita di desa sana. Setiap keserakahan kita di kota, melahirkan luka ekologis di kampung halaman orang lain.   

Melihat semua ini, saya kira bangsa ini sedang mengalami degradasi nilai Pancasila yang luar biasa. Sila keadilan sosial dikikis habis oleh keserakahan oligarki, sila kemanusiaan ditikam oleh diskriminasi yang masih terjadi di Papua, dan sila persatuan sering kali cuma berakhir jadi jargon manis di baliho pinggir jalan. Republik ini seolah-olah rela menyembelih masa depannya sendiri demi mengenyangkan perut kapitalisme.   

Kita dapat menganalogikan, bahwa para elit politik kita sedang berperan sebagai "Ibrahim palsu". Mereka tega mengorbankan alam dan rakyat kecil, sementara rakyat dipaksa pasrah menjadi "Ismail" yang harus merelakan masa depannya disembelih atas nama pembangunan. Bedanya, dalam realitas yang saya lihat hari ini, tidak ada keajaiban atau malaikat yang turun dari langit untuk menahan pisau tersebut.

Dilema

Tak terasa embun pagi mulai menguap dan saya melewatkan pagi itu dengan kepala yang penuh. Jalan tengah yang diajarkan Budhis harusnya bisa menjadi panduan supaya hidup kita seimbang, kini pelan-pelan sudah kita tinggalkan. Kita lebih memilih berada di ujung ekstrem kalau tidak menjadi pelaku kerakusan yang tanpa kendali, kita memilih menjadi penonton yang apatis.

Sebuah fakta yang tak terbantahkan, membuat saya melemparkan pertanyaan ini untuk diri saya sendiri, dan mungkin untuk kita semua. Beranikah kita mengorbankan egoisme politik, kerakusan modal, dan nafsu kekuasaan kita? Atau selama ini kita sudah merasa cukup tenang hanya dengan nongkrong di coffeeshop, memakai fesyen kalcer, lalu memamerkan foto estetika hidup kita di Instagram?   

Bagi saya, majjhima patipada bukan lagi sekadar teks agama kuno di dalam buku. Ia adalah sebuah panggilan darurat untuk menegakkan keadilan sosial dan ekologis. Jika dalam kisah suci Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak kandungnya demi Tuhan, mengapa para elite pemimpin kita tidak mau mengorbankan sedikit saja kenyamanan dan hak istimewa (privilege) mereka demi kepentingan rakyat?   

Pertanyaan yang terus menggantung di kepala saya sampai detik ini adalah sampai kapan kita akan terus menyembelih rakyat kecil dan alam atas nama pembangunan. Sementara, kita sendiri selalu enggan untuk menyembelih keegoisan dan kerakusan di dalam diri ini?

Begitulah. Sebuah jalan tengah Budhis yang tersesat di mal.

PENULIS :
Foto
Rizqi Nur Rahman
Mahasiswa program studi Sejarah Peradaban Islam di UIN Raden Mas Said Surakarta. Pemuda yang berdomisili di Pucangan, Kartasura ini aktif mengamati isu-isu sosial, budaya, politik, dan sejarah.Dapat disapa Instagram @rizqinurrahman