H. Mahbub Djunaidi pernah menulis esai berjudul KARTINI. Pertama kali di muat di Kompas, 26 April 1987 dan kini, bisa di baca lewat buku bungai rampai kolom-kolom H. Mahbub Djunaidi di Harian Kompas berjudul Asal-Usul (IRCiSoD, 2018.)
Dalam esai itu, Mahbub menampakkan cermin R.A. Kartini di zamannya. Ia berkisah bahwa ada dua orang perempuan di kampungnya yang diberi nama Kartini karena kedua ibu bapaknya begitu kepingin mereka sehebat R.A. Kartini.
Bahwa, “Supaya Kartini-Kartini ini bukan saja ayu, melainkan juga bertingkah laku layak, cerdas serta berpikiran maju, jangan jadi perempuan yang cuma pandai bersolek tapi mata duitan, cuma menghabiskan waktu dari satu arisan satu ke arisan lain. Dan agar mereka paham duduk perkara emansipasi, bukannya menyalahgunakan dan menginjak-injak kepala suami masing-masing.”
Lalu, bagaimana nasib kedua Kartini tadi? Kartini yang pertama masih berusia belasan. Masih duduk sekolah menengah atas. Ia berkeinginan buat jadi kapten kapal karena merasa punya negeri maritim. Dan, merasa ihwal kelautan belum mendapat perhatian yang selayaknya. Cita-cita Kartini muda itu membikin seantero kampung gempar. Termasuk Pak Lurah. Dengan menyala-nyala, Kartini muda menyatakan:
“Buat apa ada Raden Ajeng Kartini kalau jadi kapten kapal masih mustahil? Apa ada murid-murid sekolah menengah atas yang pria punya cita-cita jadi pelaut? Langka sekali. Paling-paling mereka kepingin jadi pegawai kantor asing atau sedikitnya pegawai kantor pajak. Apa jadinya negeri ini jika masalah kelautan diabaikan? Apa artinya pembangunan jika Cuma main di darat saja? Makanya saya mau jadi kapten kapal, …”
Yang Kartini kedua, adalah Kartini tua. Dia perempuan berumur 40 tahun. Punya suami bertubuh kegemukan dan tugasnya adalah kepala bagian. Kartini tua masih memperjuangkan gerakan emansipasi. Yaitu, dengan jangan menyerahkan seluruh urusan rumah tangga kepada suami. Sedangkan, si istri pergi ke bangsal senam bercelana putih berkaus merah sambil mampir ke toko swalayan. Kartini tua punya pikiran berbeda. Mahbub menulis:
“Apakah Kartini tua tidak pergi ke perayaan Hari Kartini? Tidak perlu. Sekarang saatnya merealisasikan dalam praktik perbuatan, bukan pidato-pidato. Inti masalah sederhana saja: mempertajam emansipasi, meninggikan martabat dan makna istri sehingga suami terpaksa mendongak ke atas jika mau memandang sang istri. Mempertajam kewaspadaan, jangan sampai suami bersikap tidak proporsional lagi. Jika tempo hari Raden Ajeng Kartini masih mentolerir sikap nrima, hal itu tidak bisa lagi dilestarikan sekarang ini.”
Terang Pendidikan
Berangkat dari gambaran Mahbub Djunaidi tentang kedua Kartini tadi, kita menjadi paham akan warisan intelektual R.A. Kartini melalui surat-suratnya. Surat-surat, yang kemudian di susun oleh Armijn Pane yang kemudian menjadi buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang (Balai Pustaka, 1938) itu, menjadi inspirasi untuk bangsa ini supaya menjadi bangsa yang terang dan keluar dari gelapnya kolonialisme.
Pijar “terang” yang di pancarkan R.A. Kartini itu, bisa kita simak dalam suratnya tertanggal Agustus 1901 yang ditujukan kepada Ny. N. Van Kol. Surat itu berisi niat R.A. Kartini untuk menjadi guru. Surat itu terbaca:
“Di mana saya sangat yakin bahwa wanita dapat memiliki pengaruh besar pada kehidupan di masyarakat, saya tidak ingin lebih, tidak lebih bersemangat, daripada dilatih untuk pendidikan, untuk mengabdikan diri saya nanti untuk pendidikan anak perempuan kepala asli. Hai! jadi sayang, aku ingin bisa memimpin hati anak-anak, membentuk karakter, mengembangkan otak muda, membentuk perempuan untuk masa depan, yang bisa menyebarkan dan menyebarkannya dengan baik.”
Dari surat di atas, teranglah bahwa Ibu Kartini berniat menjadi guru supaya bisa mendidik perempuan supaya mereka punya peran sentral di masyarakat. Ia penuh gelora. Membara. Menunaikan tugasnya sebagai perempuan dalam rangka membentuk masa depan perempuan supaya tidak gelap.
Kiranya, surat tadi sudah menginspirasi perempuan. Sekarang, banyak perempuan yang menduduki jabatan strategis di bidang politik, dibentuknya kementerian perempuan, juga banyak perempuan yang berprofesi sebagai guru. Jelas, kerja mereka ganda. Di tempat ia berkerja dan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga.
Cemburu?
Di sudut lain, dari surat tadi, kita menduga. Jangan-jangan, bisa jadi, surat tadi beraroma kecemburuan sosial. Pasalnya, di zaman R.A. Kartini hidup, pendidikan adalah hal mustahil yang ditempuh perempuan. Berbeda dengan laki-laki yang harus menempuh pendidikan di sekolah-sekolah bentukan pemerintah kolonial supaya setelah lulus, bisa berkerja untuk Belanda.
Agaknya, kita perlu membaca esai garapan Joko Priyono bertajuk Kartini dan Sains (Gemati.id, 21/04/2026). Esai gubahan fisikawan asal Solo itu, membahas percik pemikiran R.A. Kartini tentang sains.
Yang mana, mengiyaskannya dengan Merie Curie (1887 – 1934), ilmuwan perempuan asal Polandia yang meraih nobel fisika dan kimia. Saat Curie hidup, kondisi zamannya juga membatasi perempuan. Juga, dalam esai itu, pembaca diajak meratapi nasib R.A. Kartini yang apes karena tidak diizinkan sekolah dengan nasib kakaknya, R.M.P. Sosrokartono.
R.M.P. Sosrokartono. Lahir sebagai seorang lelaki dan punya darah biru, hidupnya begitu mewah dengan pendidikan yang ditempuhnya. Setamat dari Europeesche Lagere School (ELS), lalu melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burher School (HBS), ia lantas terbang ke Negeri Kincir Angin buat berkuliah di jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Universitas Leiden dan lulus dengan gelar Doctorandus in de Oostersche.
Lalu, apakah R.A. Kartini cemburu dengan R.M.P. Sosrokartono dengan pencapaian pendidikan yang gemilang pada masanya? Itu kembali pada diri kita masing-masing.
Bagaimana?
Bagaimanapun, R.A. Kartini, kiranya, memberikan inspirasi kepada kita. Entah melalui surat-suratnya maupun kemewahannya sebagai kaum ningrat.
Sebagai seorang perempuan berdarah biru, yang hidup berdampingan dengan kolonialisme, R.A. Kartini mendapatkan fasilitas sosial yang bisa dibilang mewah. Hal itu bisa kita tengok manakala kita berkunjung ke Museum Kartini. Kalau malas kesana, paling tidak bisa mengunjungi lewat pranala Youtube.
Di situ, kita bakal menjumpai fasilitas-fasilitas hidup R.A. Kartini. Mulai dari piring makannya, foto-hiasan rumahnya, cerminnya, sampai bak mandi ala Eropa. Sebuah fasilitas amat mewah di zamannya, bukan? Atau, jangan-jangan, perempuan zaman sekarang, terinspirasi oleh kemewahan hidup R.A. Kartini? Sehingga mereka menerapkan standarisasi hidup yang mewah dan elegan?
Bagaimana? Masihkah R.A. Kartini menginspirasi?