Gemati - Suara Rakjat
Siraman Rohani

Menembus Dimensi Lamunan

Moh. Hamzah Sidik | 09 Mar 2026


Cover

Sore itu seperti biasa. Saya berbuka puasa bersama teman-teman. Berbuka secara kolektif dalam sebuah acara buka bersama dan memperingati Nuzulul Quran. Waktu berbuka telah tiba, setiap meja dengan tumpukan sajian prasmanan dikerubungi tamu undangan. Yang mengerubung tidak hanya yang berpuasa saja, yang tidak berpuasa pun boleh mengantri menyantap kelezatan menu yang telah disediakan.

Karena kerumunan semakin menjalar, saya mengurungkan niat untuk bergabung disitu. Saya mengambil antrian terpendek saja, yaitu antrian di meja yang menyediakan minuman dan disebelahnya terdapat kurma serta kue-kue kecil yang hampir ludes. Saya sempatkan berbuka dengan tiga buah kurma dan dua gelas air putih. Sudah sangat sunah, bukan?

Sembari menunggu kawan saya yang terhimpit antrian, saya melipir dulu untuk menunaikan salat Maghrib berjamaah. Yang ikut salat tidak begitu banyak. Jika dibandingkan dengan antrian orang-orang yang mengambil makan secara swadaya, jamaah Maghrib ini tidak ada apa-apanya.

Setelah selesai salat, saya duduk di samping teman saya yang tengah asyik mengadu gigi dengan daging, mengadu gigi dengan lauk pauk yang puspa ragam. Sembari mengambil minum dingin nun manis, saya menyulutkan api di sebatang rokok untuk menemani obrolan diantara kita.

Dalam beberapa hisapan rokok, saya masuk dalam sebuah dimensi lamuman, sebuah dimensi yang membawa ketenangan, sunyi, dan rasa rileks. Melayang. Setiap hisapan saya tahan sejenak, atur nafas, dan kemudian saya keluarkan. Rasanya seperti tumpukan beban dalam tubuh saya rontok satu-persatu. Rasanya enak bukan main.

Di tengah-tengah sirkulasi itu, tiba-tiba dalam lamunan saya membatin, tidak terasa, ini sudah di pertengahan bulan Ramadan. Alhamdulillah”. Secercah rasa syukur saya panjatkan. Tidak perlu berbohong. Tidak bisa dipungkiri, pada awal menjelang bulan puasa, beratnya tidak karuan, kita diwajibkan menerima pembatasan perilaku dengan dalih peribadatan.

Tentu bagi orang dengan tingkat keimanan pas-pasan seperti saya ini, dalam batin bergejolak agak meronta-ronta, “loh bukankah setiap tahun juga bertemu puasa? Memang betul apa kata ki sanak sekalian. Jangankan tiap tahun, tiap bulan kita juga bertemu dengan puasa. Tetapi, yang membedakan adalah bulan Ramadan ini bulan yang istimewa. Ini sebuah pertempuran visioner melawan hawa nafsu. Jadi, amunisi (logistik) dan motivasi harus kuat pula.

Ibarat perang jangka panjang logistik keimanan, harus di persiapkan jika tidak ingin tumbang dan merugi. Tidak terasa sehari berhasil kita lewati. Dua hari lumayan meskipun agak ngos-ngosan. Lapar dan haus itu pasti. Tiga hari, empat hari dan seterusnya, sampai tubuh sudah mulai menyesuaikan ritme. Bangun pagi buta untuk berbelanja dan masak sahur. Terjaga sampai sore menunggu waktu berbuka, menyempatkan tarawih, jam tidur dikurangi. Akhirnya, kita mampu dan konsisten melakukannya hari demi hari, lapar demi lapar, dan haus demi haus.

Jadi ingat saat kalender menunjukkan bahwa bulan Ramadan makin dekat. “Aduh! sudah puasa lagi. Padahal rasanya baru kemarin kita berpuasa, ya”. Meskipun rada grundel dengan Ramadan karena waktu ngopi pagi ditiadakan. Disisi lain hati ini juga menyisakan ruang kegembiraan menyambut bulan Ramadan dengan glorifikasi langsung. Tidak perlu intro, langsung girang-gembira.

Diiringi kepulan asap rokok, lamunan petang hari itu mengantarkan saya pada ingatan indah Ramadan kala masih kecil di kampung. Dimana, kita saling berebut tanda tangan imam, perang sarung, main petasan, tidur di musala, begadang sampai sahur selebihnya dihiasi kenakalan-kenakalan kecil yang dimaafkan oleh hukum.

Disini, saya mencoba tidak malu mengakui bahwa saya merasa ada ruang keberatan di hati saya saat Ramadan tiba. Memang begitu, mau dikata apa lagi, saya tidak akan berkata bahwa saya sangat siap menyambut bulan Ramadan dengan penuh keimanan, seolah-olah saya yang paling bermoral diantara kita. Tidak, saya tidak begitu.

Sebagai orang awam yang selalu berusaha melewati obstacle kehidupan yang tidak mudah demi menjemput kegembiraan. Melewati segenap ujian keimanan seperti rasa malas, rasa berat hati, rasa kosong, dan rasa berduka. Termasuk bulan puasa ini adalah gudangnya ujian yang omnibus. Siapa bilang puasa itu ringan? Menahan haus dan lapar itu saja sudah memunculkan rasa jengkel, pegal, serta rasa kesal yang harus dikebiri.

Supaya terjadi sinkronisasi antara hati, pikiran, dan badan, tentunya berat sekali, berkat ini saya punya pengalaman untuk mendamaikan hal-hal rumit tadi. Bahwa keberatan dan keterpaksaan karena sebuah tugas, mandat, dan kewajiban, yang harus kita jalani meskipun dengan berat dan terpaksa lama-lama muncul prasangka batin yang melegakan juga “Loh ternyata hanya begini, ya”.

Yang awalnya bangun sahur yang beratnya minta ampun, mata masih lengket, badan masih enggan menyesuaikan. Tetapi, kalau sudah terbiasa bangun dan sudah menyantap hidangan bersama, kantuk otomatis hilang sendiri. Semua terasa ringan setelah, seringan mengangkat rambat untuk di santap.

Saat lamunan masih terjaga, tidak terasa hisapan rokok sudah berada pada ujungnya. Tetapi, memang benar, setelah kita mengikuti ritme selama bulan puasa ternyata semacam ada atmosfer khusus yang, tentu saja tidak kita alami jikalau kita tidak berpuasa. Ada kualitas makan minum yang kedahsyatan dan keenakannya luar biasa, hanya bisa kita alami kalau kita berpuasa.

Jadi awalnya memang berat, tetapi kita harus kuat dan konsisten untuk mengatasi keberatan itu dengan keteguhan iman kita. Suatu hikmah yang ada di balik ini semua itu amat banyak dan yang banyak itu baru bisa kita rasakan setelah kita menjalani ibadah puasa ini dengan melawan rasa keberatan, rasa kesebelan, juga rasa keraguan hidup. Wallahualam.


PENULIS :
Foto
Moh. Hamzah Sidik
Suka baca. Jarang nulis. Terobsesi untuk merebut tahta Raja Jawa.