Semenjak bulan Februari lalu, kapal pengangkut jet-jet tempur Amerika Serikat (AS) dan beberapa kapal pengawalnya mendekati perairan Iran. Sontak, dunia tegang. Bingung. Gundah-gulana. Apakah akan terjadi perang antara kedua negara dengan kekuatan militer termutakhir saat ini? Boom. Akhirnya bom itu meledak. Kini kedua negara itu mencapai klimaksnya.
Saling melontar rudal terjadi. Rudal-rudal itu seperti batu yang dilontarkan dari ketapel. Seperti kita saksikan di pelbagai media sosial, ramai mempersembahkan hujan rudal yang menghiasi cakrawala negara-negara di sekitar Iran dan Israel. Di kala malam, langit di wilayah Hijaz itu nampak terang benderang seperti aurora imitasi yang menyemburat. Bukankah itu cukup indah bila disaksikan?
Namun, setelah rudal-rudal dari kedua belah pihak itu berkejaran di langit seperti Tom dan Jerry itu, ada yang berhasil lolos dan menghujam target. Rudal-rudal Iran berhasil menghujam tempat-tempat strategis negara-negara Teluk yang berkongsi dengan Paman Sam. Begitu juga sebaliknya, rudal-rudal milik AS dan Israel juga berhasil menghantam Iran. Utamanya rudal itu berhasil men-syahid-kan pemimpin besar Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sang Imam dikonfirmasi syahid pada 1 Maret 2025.
Nuklir
Lantas, mengapa AS begitu ngotot memporakporandakan Iran? Iran, setelah rezim Shah Reza Pahlavi jatuh dan Imam Ayatullah Khomeini melakukan revolusi total terhadapnya, Iran menjadi negara Islam yang kuat, berdikari, berdaulat, tidak bergantung kepada asing, dan rebel terhadap kebijakan AS dan sekutunya. Karenanya, Iran sibuk dengan pengembangan senjata nuklir dan masa bodoh dengan sanksi internasional. Inilah yang membikin AS tidak nyaman tidurnya.
Samuel P. Huntington dalam bukunya Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia (Penerbit Qolam, 2007) mencatat, di tahun 1995, intelijen PBB melaporkan bahwa Iran kini sedang melakukan akuisisi persenjataan nuklir. Dan, pada tahun 1995, Sekretaris Negara AS, Warren Christopher dengan tegas menyatakan, “Sekarang ini Iran sedang melakukan upaya-upaya yang berbahaya ke arah pengembangan senjata nuklir.”
Hal ini, tidak lepas dari peran sentral Cina dalam mentransfer senjata-senjata konvensional maupun non-konvensional dan pendirian reaktor nuklir ke pelbagai negara-negara Islam, termasuk Iran. Secara aktif dan terbuka, Cina melakukan kolaborasi dengan Iran untuk menciptakan senjata nuklir. Setelah menandatangani kesepakatan bersama, Cina-Iran, kedua negara itu pada Januari 1990 menandatangani kerja sama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi militer untuk jangka waktu sepuluh tahun.
Selanjutnya, pada Desember 1992, Presiden Rafsanjani di dampingi oleh ahli-ahli militer Iran, melawat ke Cina dan Pakistan. Kunjungan itu membuahkan kesepakatan kerja sama antara Iran dengan Cina dalam bidang teknologi nuklir dan, pada 1993 Cina diizinkan membangun dua reaktor nuklir 300 MW. di Iran.
Karenanya, AS terusik oleh progresivitas eksplorasi nuklir yang dilakukan oleh Iran dan Cina, ditambah lagi Korea Utara. Negeri-negara ini sering dijatuhi sanksi oleh dunia internasional dibawah kendali AS. Namun, sanksi itu malah menambah gelora perlawanan atas hegemoni bangsa Barat yang menggap Timur sebagai the other, kata Edward Said.
Minyak
Selain nuklir, Iran begitu kaya sumber daya alamnya. Utamanya minyak. Nasir Tamara bertajuk Revolusi Iran (Kepustakaan Populer Gramedia, 2017). Buku ini, mengantarkan pembaca kepada sejarah Iran yang menjadi panorama penuh gejolak, peradaban lintas kebudayaan, perebutan kekuasaan yang saling tarik ulur, dan ring gulat bagi berbagai negara asing yang ingin memperebutkan sabuk yang berwujud konsesi pengelolaan minyak.
Bahwa, pada Februari 1892, ada arkeolog Prancis yang bekerja di Iran, Jacques de Morgan. Ia menulis artikel secara berkala Annales des Mines. Artikel itu menyatakan bahwa ada kemungkinan terdapat minyak di daerah Iran Selatan. Artikel terbaca oleh Jenderal Antoine Kitabchi, Direktur Jenderal Duane (bea cukai) Iran yang kebetulan berada di Paris melalui Baron Reuter yang mempunyai banyak konsesi di Iran.
Lalu, Kitabchi langsung menemui pemilik modal Prancis untuk mendapatkan bantuan keuangan buat mengolah minyak itu, namun ia tidak tertarik. Akhirnya, Kitabchi menemui William Knox d'Arcy, seorang pemodal asal Australia. Seketika, d'Arcy tertarik dan langsung membiayai riset pencarian minyak. Dan ternyata, arkeolog Prancis tadi benar!
Oleh karena itu, d'Arcy meminta bantuan Inggris buat mencari perlindungan dari campur tangan Rusia. Pada 26 Mei 1901, d'Arcy berhasil mendapatkan konsesi pengolahan minyak di sebagian besar wilayah Iran. Konsesi ini memberikan hak istimewa untuk mencari, menemukan, mengolah, mengembangkan, menjual di seluruh Iran selama enam puluh tahun setelah konsesi itu ditandatangani. (hlm. 21-22)
Namun, celakanya, di bawah Shah, konsesi minyak malah diberikan kepada AS setelah AS berhasil mengusir Rusia dari Iran. Hubungan Shah dan Jimmy Carter makin harmonis. Iran kehilangan etika ketimurannya. Nilai-nilai Islam terkikis. Rakyat Iran tersandera oleh kediktatoran Shah. Pers dibungkam, kritik di larang, militeristik, hingga ia membentuk kepolisian rahasia, SAVAK untuk mengintai para kritikus dan oposisi yang tidak pro-pemerintah.
Hingga, Shah hengkang dari negerinya menuju Mesir dan terjadi kekosongan kekuasaan. Hal ini, membawa Ayatullah Khomeini pulang ke tanah airnya setelah ditinggalkan selama lima belas tahun. Dengan pesawat Air France, Khomeini tiba di tanah airnya pada 1 Februari 1979. Ia disambut jutaan rakyat sebagai pahlawan agung; berkisar lima sampai enam juta orang.
Setelah itu, menyatakan bahwa Dinasti Shah adalah illegal… sekarang saya yang akan mengangkat pemerintahan seperti yang diinginkan rakyat. Lanjutnya,
“Harus kukatakan bahwa Mohammad Reza Pahlavi, pengkhianat ini, telah pergi, telah terbang, setelah merampok milik kita. Dia telah merampok negara dan membangun kuburan-kuburan. Setelah struktur ekonomi kita rusak. Iran harus bekerja keras, dan lama, untuk membangunnya kembali. …… Mohammad Reza Pahlavi membuat ini agar kita tergantung pada AS dan Israel”. (hlm. 165)
Begitulah. Kita menyaksikan dan menyangsikan perang antara Iran melawan AS. Sumber daya alam serta kecemburuan ilmu pengetahuan dan sains tetap menjadi motif utama terjadinya perang. Memang, adalah ulah AS yang ingin dan selalu menjadi negara teradidaya di dunia.
AS yang menjadi simbol Barat tetap setia menghegemoni Timur-Islam. Namun, Iran mengajarkan sebuah watak rebel atas imperialisme bangsa Barat. Dengan Islam, mereka mampu berdaulat, berdikari, dan tetap idealis atas keyakinan dan cita-cita perjuangan mereka. Itu Iran.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita juga harus menyangsikan kondisi Timur Tengah sekarang ini? Mungkinkah Indonesia akan bernasib sama seperti Iran? Wallahualam.
#PerangIranAmerikaSerikat #Ayatollah Khomeini #Ayatollah Ali Khamenei #BenyaminNetanyahu #DonaldTrump #Nuklir