Gemati - Suara Rakjat
Esai Kerakjatan

Mudik, Cinta, dan Spiritualitas

Fahrul Anam | 20 Mar 2026


Cover

Setelah tasyakuran (megengan), setelah saya memasukkan menu-menu yang terkandung di buceng-buceng itu dengan sedikit-sedikit, saya nimbrung bersama adik keponakan untuk bercengkrama. Dalam obrolan itu, saya menanyakan kabar tentang seorang teman masa kecil, apakah dia bakal mudik. Dan, ternyata, teman saya yang bekerja di pulau Borneo sebagai anggota dari institusi negara itu batal mudik karena kehabisan tiket pesawat. Amat kasihan.

Dari kabar ini, kita mengerti bahwa lebaran tetap menjadi hari penting untuk berkumpul, menanyakan kabar—termasuk kapan menikah, dan bertukar pengalaman. Memang, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, mudik adalah ibadah yang harus dilaksanakan supaya Idulfitri terasa lebih komplit dan tidak hampa. Orang-orang yang mukim di kota atau merantau di sana beranjangsana desa; mengunjungi sanak saudara. Menyemai cerita dan melipur lara.

Namun apalah daya. Sebaik-baik, semulus-mulusnya rencana kita, bakal sirna kalau Sang Mahaperencana tidak merestuinya. Seperti yang dialami teman saya tadi dan mungkin, banyak orang yang bernasib apes karena gagal mudik dengan segenap halangan-halangan yang menerpa.

Solo ke Njati

Ketidakberuntungan teman saya yang batal mudik tadi, membawa kita kepada cerpen bertajuk Ke Solo, Ke Njati… gubahan Umar Kayam. Cerpen yang bisa kita baca di buku kumpulan cerpen Kado Istimewa (Cerpen Pilihan Kompas 1992) itu memotret seorang perantau yang ingin mudik ke kampung halamannya setelah beberapa tahun mengadu nasib di kota.

Dikisahkan seorang ibu dengan kedua anaknya berniat buat mudik ke Wonogiri. Namun, dua hari usahanya untuk memperoleh bis selalu gagal karena selalu kelebihan penumpang. Bahkan dia malah apes, bajaj yang membawanya dari terminal menuju kamar sewaan membandrol sewa beberapa kali lipat. Belum lagi, tiket bis yang ia dapat berasal dari calo.

Hingga, kedua anaknya pun merengek dan mau menangis. Padahal sudah tekad si ibu untuk mengajak anak-anaknya mudik. Anak-anaknya diceritai tentang Njati, sawah-sawahnya, kerbau dan sapinya, bentuk-bentuk rumah di desa.

Termasuk tentang mbah-mbahnya yang sudah memutih rambutnya. Juga tentang kota-kota yang bakal mereka lewati, yang akan dapat mereka lihat sekilas-sekilas dari jendela bis yang membawa mereka.

Tetapi, itu hanya angan saja, tidak jadi kenyataan. Akhirnya, mereka pulang. Pulang dalam arti menuju ke kamar sewaan yang terselip di pemungkiman agak kumuh di Jakarta. Dan, karena gagal mudik, si ibu meninggalkan kedua anaknya yang sudah tertidur buat pergi ke tempat nyonya untuk menyuci piring kotor di dapur.

Dari cuilan cerpen karya sastrawan asal Ngawi itu, mudik adalah seremoni yang multi-dimensi. Mudik memerlukan kebulatan tekad buat menepi dari rutinitas sosial yang bertahun-tahun digeluti. Dan mudik ini menjadi momen tepat buat mengadakan perjalanan.

Meskipun nampak perjalanan lumrah, mudik adalah wahana laku tingkat lanjut. Setelah menjalani puasa Ramadan dengan segenap ibadah-ibadah lainnya, mudik kiranya dapat menjadi penyempurna ibadah-ibadah di bulan Ramadan.

Dengan menempuh perjalanan puluhan bahkan ratusan kilometer menuju kampung halaman, menjadi sebuah perjalanan spiritual berlandaskan kerinduan untuk menggapai cinta. Cinta itu terinvestasi dari jarak dan waktu. Keduanya itu terbentuk dari meditasi sosial seseorang yang memisahkannya dari sanak keluarga di kampung halaman.

Kita bisa melihat, secara horizontal mudik itu membuat seseorang mengoneksikan cinta antar sesama hamba (hablumminannas). Namun, di pihak lain, mudik menjadi perjalanan vertikal yang membentangkan garis tegak keatas untuk memperoleh cinta dari Sang Mahacinta (hablulminallah).

Maulana Rumi

Uraian ini membimbing kita kepada buku bertajuk Akulah Angin Engkaulah Api (Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi) gubahan Annemarie Schimmel (Penerbit Mizan, 2016). Kita mengetahui bahwa, Annemarie Schimmel (1922-2003), seorang orientalis perempuan berkebangsaan Jerman mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari dan memahami syair-syairnya Maulana Rumi.

Schimmel merekam mudiknya Maulana Rumi dari Khurasan (sekarang Afganistan) menuju Konya. Mudik itu dilakukan Rumi manakala ia masih masih berusia lima belas tahun. Setelah sampai di Konya, khususnya di daerah Anatolia, Maulana Rumi menjalani kehidupannya sebagai seorang alim, mengajar dan bermeditasi.

Di Konya inilah, Maulana Rumi mengalami hal yang tidak terduga. Pada perjalanannya pulang dari madrasah, Maulana Rumi berjumpa dengan seseorang misterius yang tidak ia kenal sebelumnya.

Seseorang ini menanyakan sebuah hal kepada Maulana Rumi—sebuah pertanyaan yang membuat Maulana Rumi pingsan. Kita tidak mengetahui kata-katanya, tulis Schimmel. Tetapi, menurut sumber yang dapat dipercaya, orang tak dikenal itu menanyakan kepada Maulana Rumi, “siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah atau sufi dari Persia, Bayazid Bisthami.

Ternyata, seorang misterius tadi adalah Syamsuddin Tabriz seorang diwan (sufi) yang kemudian akan menjadi guru spiritual (mursyid) Maulana Rumi. Syamsuddin Tabriz sangat berpengaruh kepada Maulana Rumi.

Pengaruhnya tercermin kepada perubahan Maulana Rumi. Perubahan ini tercermin dari Maulana Rumi yang sebelumnya fokus pada ilmu kalam dan, setelah mengenal Syamsuddin Tabriz, ia menggesernya keilmuannya ke pengalaman mistik, dan mentransformasikan dirinya menjadi seorang penyair dengan cinta Illahi sebagai identitasnya yang termaktub dalam kitab Diwan-I Syams-I Tabrizi.

Kekasih

Karenanya, setiap perjalanan pastilah menemui maknanya. Perjalanan yang membimbing seorang hamba kepada haribaan-Nya pastilah tidak mulus dan lurus. Pastilah terdapat pohon tumbang, batu kerikil yang mengguncang, dan dominasi hawa nafsu yang ingin menggoyahkan hati dan pikiran saat menempuh sebuah perjalanan.

Begitulah mudik. Sebuah perjalanan yang memerlukan cita-cita, meskipun sebentar saja untuk menengok kekasih. Tetapi, di rumah kampung halaman kita cahaya cinta itu terpancarkan. Mengitup syair Maulana Rumi,

Mari ke rumahku, Kekasih sebentar saja!// Gelorakan jiwa kita, Kekasih sebentar saja!// Dari Konya pancarkan cahaya cinta// Ke Samarkand dan Bukhara sebentar saja!

Syair tadi melambangkan bahwa dalam perjalanan (mudik) dari satu tempat ke tempat lain untuk menemui kekasih dapat memancarkan cinta dari Kekasih kita yang Mahacinta. Wallahualam.


#Idulfitri 1447 H #Mudik #Lebaran #UmarKayam #MaulanaRumi #Cinta

PENULIS :
Foto
Fahrul Anam
Pembeli buku-buku bekas. Penikmat kopi Arabika V60.